Pada 1 Oktober 2022 lalu, terjadi sebuah peristiwa kelam dalam kancah
sepak bola Indonesia. Pertandingan Arema vs Persebaya tersaji dalam nuansa
panas hingga hasil akhir dimenangkan tim Persebaya dengan skor 2:3. Kerusuhan
terjadi pasca peluit akhir dibunyikan, para penonton berhamburan turun ke
lapangan stadion. Melihat fenomena itu, pihak kepolisian melakukan penertiban
dengan menembakkan gas air mata. Setelahnya, para penonton menjadi panik hingga
tergesa-gesa mencoba meninggalkan area stadion. Namun naas, terdapat beberapa
pintu stadion yang belum terbuka sehingga menyebabkan penonton tidak bisa
keluar stadion dengan lancar yang mengakibatkan terjadi adegan saling
injak-menginjak karena perih dengan gas air mata. Atas kejadian ini, melansir
dari artikel CNN, bahwa korban kejadian stadion Kanjuruhan hingga artikel ini
ditulis adalah 134 korban meninggal dan ratusan korban luka-luka.
Lalu, siapa yang
bertanggung jawab dalam tragedi stadion Kanjuruhan ini? Tentunya induk dari
sepak bola Indonesia dan stakeholder liga 1 Indonesia. Tetapi pada
kenyataannya yang terjadi adalah saling lempar tanggung jawab di antara
keduanya. Semua pihak yang terkait dalam pertandingan ini haruslah bertanggung
jawab, terlebih dari pihak PSSI selaku federasi tertinggi dalam sepakbola
Indonesia.
PSSI sendiri acapkali
memberikan pernyataan yang mengatakan bahwa kesalahan tragedi Kanjuruhan
sepenuhnya ditanggung oleh panitia pelaksana (Panpel). Manuver PSSI ini
berlandaskan pada Regulasi Keselamatan & Keamanan PSSI 2021 pasal 3 tentang
tanggung jawab yang pada intinya berbunyi bahwa panpel wajib, dengan biayanya
sendiri, bertanggung jawab secara penuh mematuhi persyaratan PSSI melalui
peraturan ini, mematuhi semua hukum yang berlaku, membayar seluruh pajak,
ongkos, bea, dan biaya pelaksanaan dan kepatuhan peraturan ini, panpel menjamin
melepaskan tanggung jawab terhadap kecelakaan dalam pelaksanaan peraturan ini,
dan menunjuk petugas keselamatan dan keamanan. Cuci tangan ini seharusnya tidak
dilakukan PSSI jika merujuk pada Regulasi Stadion PSSI 2021 pasal 14 di mana
PSSI dan PT LIB bertanggung jawab atas keamanan stadion.
Selain itu, melihat
kejadian tragedi Stadion Kanjuruhan terdapat beberapa hal yang perlu
ditindaklanjuti yang menyangkut kebijakan-kebijakan PSSI. Pertama, dari jadwal
pertandingan yang dilakukan malam hari, sedangkan dari pihak panpel dan
kepolisian setempat sudah mengajukan perpindahan jadwal pertandingan. Namun,
pihak PSSI dan PT LIB menolak permohonan itu. Kedua, terkait kapasitas stadion
Kanjuruhan. Terdapat kabar bahwa pertandingan Arema vs Persebaya dijual 42.000
tiket, sedangkan kapasitas stadionnya hanyalah 38.000. Namun, hal ini perlu
ditindak lanjuti terkait kesahihannya. Pihak PSSI dalam hal ini haruslah
menyediakan informasi pasti kapasitas tiap stadion klub Indonesia di bawah
naungannya yang dapat dikonsumsi publik, hal ini sangat penting untuk
mengantisipasi kejadian-kejadian serupa kejadian ini.
Pada Tragedi Kanjuruhan
memang bukan sepenuhnya salah PSSI, stakeholder pun harus juga bertanggung
jawab, dalam hal ini baik dalam tanggung jawab pidana maupun moral.
Pada media massa
terdapat desakan paling kuat agar ketua umum PSSI untuk mengundurkan diri,
sebagai pertanggung jawabannya. Hal serupa juga disampaikan oleh ketua TGIPF
(Tim Gabungan Independen Pencarian Fakta), Mahfud MD, mengatakan bahwa
“Pengurus PSSI harus bertanggung jawab dan sub-sub organisasinya,” dan “....
penyelidikan tindak pidana terhadap orang-orang lain yang juga diduga kuat
terlibat dan harus ikut bertanggung jawab secara pidana di dalam kasus ini.”
Desakan agar ketua umum
PSSI mundur, membuat pelatih Timnas ikut mengomentari hal ini, “Menurut saya,
jika ketua umum PSSI harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi dan
mengundurkan diri, maka saya pun harus mengundurkan diri. Karena saya pikir
jika terdapat kesalahan dari rekan kerja yang bekerja bersama sebagai 1 tim,
maka saya pun juga memiliki kesalahan yang sama.” Hal ini pasti berdampak pada
performa Timnas Indonesia, jika Shin Tae-yong benar ikut mengundurkan diri.
Performa Timnas di bawah asuhannya bisa dibilang cemerlang, di mana mampu
meloloskan Timnas Indonesia dan Timnas Indonesia U-20 lolos Piala Asia. Maka
dari itu, diperlukan perhatian dari segala pihak yang terkait untuk menanggapi
hal ini, dalam menentukan keputusan terbaik untuk liga dan Timnas Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar