• Kilas Balik bersama KMSI: Keluarga ini banyak ceritanya, yah

     


    Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) seperti esensi dalam sebuah namanya, keluarga. Rumah tempatmu mendapatkan pelukan kedua setelah pelik dunia membuatmu terluka. Dan disinilah kisah kami bermula.

     Aku masih ingat kala itu, kala pertama kali sorot mata ini saling bertemu. Dibalik dinding pembatas bernama virtual tidak ada dalih politik dan manis yang palsu, banyak hal yang baru. Puluhan pendaftar dengan segenap keraguan telah dipatahkan dengan kepercayaan dan semangat mengubah asa menjadi kebahagiaan. Kami adalah sebagian panglima tempur pilihan yang diasah melalui komitmen,  ide, dan tindak aktif dalam memainkan sebuah peran bernama Fungsionaris KMSI. Kami tersenyum, mata kami berbinar kala menilik papan pengumuman. Kami berangkat dari asas dan harapan yang masing-masing bergelut dalam pikiran. Ada sebuah alasan besar di setiap diri kami untuk menjadi panglima keluarga ini.  Relasi, kontribusi, atau sekedar coba-coba. Apapun alasannya ada hal yang harus dipertanggungjawabkan. Masih berada dibalik dinding yang sama, bernama virtual. Kami digabungkan dalam sebuah ruang yang senyap, sepi, dan gelap. Kemudian lentera itu dihidupkan, kami dipantik untuk saling mengenal. Lantas kami saling memperkenalkan diri ke permukaan. Kami bimbang, akankah sorot ketulusan keluarga ini akan kami nikmati hingga peran ini berakhir?

    Aku ingin mengajakmu bernostalgia, setiap program kerja dan departemen berangkat dari citra dan cita-cita yang berbeda namun dalam relevansi yang berjalan bersama. Kami adalah sepasang tangan asing yang berjalan dari dalam hati nurani masing-masing. Kami panglima, kami dikirimkan dan dipercaya layaknya seorang kakak yang melindungi adik-adik mereka dari keterjajahan mental dan luka. Lebih dari itu, ada iklim yang harus kami jaga. Iklim itu bernama, iklim Sastra Indonesia. Hari demi hari dilewati bersama, pembentukan panita, perencanaan program kerja, adu argumen dan pendapat yang berbeda, rapat rutinan hingga evaluasi bersama. Kami melewati hari demi hari yang tak seberapa bahagia, tetapi mampu membuat kami tersenyum kala mengingatnya. Program kerja besar dan kecil saling meramaikan minggu demi minggu di setiap bulannya. Program Kerja tatap muka dibuka oleh divisi Pengabdian Masyarakat (Dimas) yang mengusung kegiatan pengabdian mengajar untuk Sekolah Dasar di Semarang. Melalui Program kerja itulah keluarga yang saling terhalang jarak ini bertemu. Pertemuan itu mengantarkan pada keakraban yang dihiasi gelak tawa. Disitu kerja tim kami dibentuk untuk memahami kondisi dan sesama. Ini bukan cerita tentangku, bukan juga tentang Dimas KMSI saja tapi ini cerita tentang kita, keluarga. Aku ingat saat kami saling merangkul bahu, kami percaya bahwa kami adalah panglima yang mampu. Ternyata benar, yah? Kepercayaan dapat beralih tangan melalui sepasang mata yang saling menguatkan. Terlahir didepartemen apapun kami, kami adalah seorang pengabdi. Dari setiap tetes keringat yang mengalir bernilai dedikasi untuk sesama kami. KMSI Mengajar bukan jejak kaki yang pertama, Program Kerja virtual juga banyak membentuk langkah kita.

    Kami beranjak pada kepalan tangan yang saling menguatkan, ada Badan Pengurus Harian (BPH) yang mengawal kami menempuh dinding citra yang kami tuju. Garda terdepan dalam penyelarasan dan realisasi Program Kerja serta visi misi yang kami ampu. Beranjak pada lima Srikandi mereka yang paling kuat, departemen Pengkajian dan Penalaran (Jiran), pada pundak mereka Program Kerja seputar kapasitas kemampuan terkait kecerdasan dan olah pikir akademik dibebankan. Mereka adalah wanita-wanita luar biasa yang dapat merealisasikan Program Kerja luar biasa bertaraf nasional. Panglima selanjutnya adalah ADKESMA (Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa) mereka berangkat dari aspirasi mahasiswa seputar keadilan Uang Kuliah Tunggal (UKT), informasi beasiswa, hingga keluh kesah mahasiswa Sastra Indonesia terkait kebijakan-kebijakan kampus. Disisi lain berjalanlah PSDM (Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa) yang bergerak dalam pokok-pokok kaderisasi hingga penyaji resolusi kepada permasalahan yang ada di Sastra Indonesia. (Minat, Bakat, dan Aspirasi Budaya) berada dalam tanggung jawab departemen MIKATBUD. Disela-sela jemari merekalah puncak Parade Bulan Bahasa (Parlansa) terealisasikan. Wadah budaya yang mengemas tawa dalam seni dan bingkisan sastra. Sejalan dengan Program Kerja yang berjalan beriringan, tidak lengkap jika tidak membahas departemen Ekonomi dan Bisnis (Ekobis) yang menjadi ujung tonggak pengumpulan dana sebagai bekal Program-program kerja luar biasa KMSI. Melalui tangan-tangan terampil merekalah dana KMSI terpenuhi. Bertepi pada Pengabdian Masyarakat yang telah banyak dibahas, kami adalah pengabdi yang mengukuhkan dedikasi khususnya untuk KMSI. Dibalik kesuksesan Proker-proker tersebut ada departemen Media dan Komunikasi (Medkom) yang memuplikasikan Program Kerja setiap departemen. Setiap hari, menyalurkan kreativitas yang dimiliki tiap anggotanya melalui desain-desain yang luar biasa. Karya-karya dari tiap-tiap anggota medkom patut diapresiasi dalam keberjalanan Proker di KMSI, khususnya MASASI (Majalah Sastra Indonesia) didalamnya tidak hanya memuat keterampilan desain dan konten tetapi juga memberitakan iklim Sastra Indonesia.

                Cerita untuk KMSI tidak akan pernah berhenti dibenak dan pikiran para fungsionaris, banyak cerita yang tidak hanya dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi ini salah satu bentuknya, waktu yang begitu awal bergerak sedemikian cepat mengantarkan kapal ini berlayar begitu jauh hingga akhirnya harus berhenti di suatu dermaga untuk mengucapkan kata sampai jumpa dan terima kasih. Berganti kepala berganti nahkoda, sampai bertemu di KMSI selanjutnya.

    To be continue.

     


  • You might also like

    1 komentar:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Kilas Balik bersama KMSI: Keluarga ini banyak ceritanya, yah

  Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) seperti esensi dalam sebuah namanya, keluarga. Rumah tempatmu mendapatkan pelukan kedua setelah...