Lantas,
bagaimana dengan pendidikan Indonesia? Pendidikan Indonesia menurut survei yang
dilakukan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat,
peringkat Programme for International Student Assessment (PISA)
Indonesia berada dalam urutan bawah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia
berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di
peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari
78 negara. Yang memperhatinkan adalah, nilai tersebut cenderung stagnan dalam
kurung waktu 10-15 tahun terakhir. Tentunya hal ini menjadikan PR berat bagi
pemerintah Indonesia.
Jika dikaji lebih dalam, pemahaman membaca para pelajar Indonesia yang rendah menjadi salah satu sebab krusial yang membuat peringkat PISA Indonesia berada di urutan bawah. Pemahaman membaca tidak hanya dalam teks-teks bahasa Indonesia, etapi juga pemahaman dalam membaca tabel, grafik, dan peta. Hal tersebutlah yang menyebabkan nilai matematika dan sains juga mengalami angka yang rendah. Rendahnya minat membaca pada pelajar Indonesia adalah penyakit kronis dalam pendidikan Indonesia. Menurut Lilik dan Wawan dalam artikelnya yang berjudul “Permasalahan Budaya Membaca di Indonesia” mengatakan bahwa terdapat faktor-faktor pendorong problematika budaya membaca di Indonesia antara lain :
1. Kesalahan persepsi tentang konsep kemampuan membaca pada sebagian besar masyarakat termasuk siswa dan guru. Pengembangan kemampuan membaca masih dipersepsikan sebagai bagian dari tanggung jawab mata pelajaran bahasa saja.
2. Proses pembelajaran disekolah dasar masih belum memanfaatkan model, metode, strategi dan media pembelajaran yang beragam serta sesuai untuk pembelajaran membaca pemahaman.
3. Bahan bacaan, kegiatan pembelajaran, dan soal-soal latihan/evaluasi yang ada pada bahan ajar di sekolah cenderung masih berkutat pada keterampilan berpikir tingkat rendah (low order thinking).
4. Belum maksimalnya sarana prasarana dan pelayanan perpustakaan sekolah sebagai pusat pengembangan kemampuan membaca siswa.
5. Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang masih belum memperlihatkan progres yang diharapkan.
Problematika
ini adalah problematika yang kompleks, dibutuhkan peran
semua pihak untuk mengatasinya. Dari kubu pemerintah, seharusnya
bisa mengkonsep kurikulum yang efektif dan efesien dalam meningkatkan kemampuan
siswa, memberikan pelatihan guru agar mencetak guru-guru yang terbaik,
serta pemerataan sarana prasarana di seluruh wilayah Indonesia.
Kebijakan-kebijakan itu nantinya perlu digerakan oleh semua elemen agar pemerinta
tidak hanya mengeluarkan kebijakan dan regulasi, tetapi juga gerakan yang terimplementasi dengan rapi.
Sebagai
agen perubahan, mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk mengatasi
problematika rendahnya minat membaca pada
pelajar
di Indonesia. Resolusi yang tepat atas keterpurukan pendidikan di
Indonesia yani dengan membidik problematika pendidikan melalui gerakan
pengabdian mengajar. Gerakan ini ditujukan sebagai pemantik api para pelajar untuk gemar membaca sekaligus sebagai sarana mahasiswa menampilkan solusi
kreatif dan peran fungsionalnya sebagai bagian dari masyarakat. Menyoroti
ragam permasalahan diatas, lantas bagaimana dengan KMSI Undip? Sebagai organisasi berbasis sastra dan bahasa,
dapatkah mereka mengemban tugasnya sebagai agen perubahan dengan solusi kreatif
yang mereka punya? 26 Mei 2022 datang sebagai jawabannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar