• “MENGUPAS PROBLEMATIKA RENDAHNYA MINAT BACA PADA PELAJAR INDONESIA”

                   


    Kausalitas yang terjadi pada manusia monodualis yang mementingkan komposisi dalam kemajuan suatu negara adalah hakiat belajar dan kulitas sumber ajar. Hakikat belajar terpenuhi apabila pemenuhan sumber ajar tercukupi. Salah satu sumber ajar yang menjadi tonggak pendidikan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM yang bermutu digadang-gadang dapat mengatasi problematika pendidikan yang ada. Sehingga, apa yang dicita-citakan oleh sebuah bangsa dapat terwujud dengan keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh warga negaranya. Maka tak khayal jika cita-cita sebuah negara ingin menjadi negara yang maju, kebijakan-kebijakan pemerintahnya harus memfokuskan pada peningkatan SDM-nya. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas SDM adalah dengan menopang kualitas mutu pendidikan baik formal maupun nonformal. Dalam realisasinya, selain penggunaan dana yang secara eksklusif semata-mata difokuskan pada kemajuan kualitas sektor pendidikan, kebijakan kurikulum pendidikan pun menjadi fokus utama, agar tercipta efektifitas dan efiensi dalam pembelajaran.

    Lantas, bagaimana dengan pendidikan Indonesia? Pendidikan Indonesia menurut survei yang dilakukan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berada dalam urutan bawah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Yang memperhatinkan adalah, nilai tersebut cenderung stagnan dalam kurung waktu 10-15 tahun terakhir. Tentunya hal ini menjadikan PR berat bagi pemerintah Indonesia.

    Jika dikaji lebih dalam, pemahaman membaca para pelajar Indonesia yang rendah menjadi salah satu sebab krusial yang membuat peringkat PISA Indonesia berada di urutan bawah. Pemahaman membaca tidak hanya dalam teks-teks bahasa Indonesia, etapi juga pemahaman dalam membaca tabel, grafik, dan peta. Hal tersebutlah yang menyebabkan nilai matematika dan sains juga mengalami angka yang rendah. Rendahnya minat membaca pada pelajar Indonesia adalah penyakit kronis dalam pendidikan Indonesia. Menurut Lilik dan Wawan dalam artikelnya yang berjudul “Permasalahan Budaya Membaca di Indonesia” mengatakan bahwa terdapat faktor-faktor pendorong problematika budaya membaca di Indonesia antara lain :

    1. Kesalahan persepsi tentang konsep kemampuan membaca pada sebagian besar masyarakat termasuk siswa dan guru. Pengembangan kemampuan membaca masih dipersepsikan sebagai bagian dari tanggung jawab mata pelajaran bahasa saja.

    2. Proses pembelajaran disekolah dasar masih belum memanfaatkan model, metode, strategi dan media pembelajaran yang beragam serta sesuai untuk pembelajaran membaca pemahaman.

    3. Bahan bacaan, kegiatan pembelajaran, dan soal-soal latihan/evaluasi yang ada pada bahan ajar di sekolah cenderung masih berkutat pada keterampilan berpikir tingkat rendah (low order thinking).

    4. Belum maksimalnya sarana prasarana dan pelayanan perpustakaan sekolah sebagai pusat pengembangan kemampuan membaca siswa.

    5. Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang masih belum memperlihatkan progres yang diharapkan.

    Problematika ini adalah problematika yang kompleks, dibutuhkan peran semua pihak untuk mengatasinya. Dari kubu pemerintah, seharusnya bisa mengkonsep kurikulum yang efektif dan efesien dalam meningkatkan kemampuan siswa, memberikan pelatihan guru agar mencetak guru-guru yang terbaik, serta pemerataan sarana prasarana di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan-kebijakan itu nantinya perlu digerakan oleh semua elemen agar pemerinta tidak hanya mengeluarkan kebijakan dan regulasi, tetapi juga gerakan yang terimplementasi dengan rapi.

    Sebagai agen perubahan, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk mengatasi problematika rendahnya minat membaca pada pelajar di Indonesia. Resolusi yang tepat atas keterpurukan pendidikan di Indonesia yani dengan membidik problematika pendidikan melalui gerakan pengabdian mengajar. Gerakan ini ditujukan sebagai pemantik api para pelajar untuk gemar membaca sekaligus sebagai sarana mahasiswa menampilkan solusi kreatif dan peran fungsionalnya sebagai bagian dari masyarakat. Menyoroti ragam permasalahan diatas, lantas bagaimana dengan KMSI Undip? Sebagai organisasi berbasis sastra dan bahasa, dapatkah mereka mengemban tugasnya sebagai agen perubahan dengan solusi kreatif yang mereka punya? 26 Mei 2022 datang sebagai jawabannya.




  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Kilas Balik bersama KMSI: Keluarga ini banyak ceritanya, yah

  Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) seperti esensi dalam sebuah namanya, keluarga. Rumah tempatmu mendapatkan pelukan kedua setelah...