UNESCO mencatat Indonesia merupakan
negara kedua dari bawah yang memiliki minat literasi rendah. Selain karena
keterlambatan dalam pemerataan fasilitas dan media ajar, kepekaan tanggap dan
pengajar juga menjadi sebab dominan terhambatnya simpatisme membaca. Menanggapi
hal itu, banyak gerakan organisasi dalam mendukung literasi di negara ini. Hal
itu juga didukung dengan beberapa sarana yang sudah tersedia, seperti
perpustakaan dan taman baca. Namun rupanya belum sepenuhnya merubah kondisi
minat baca warga Indonesia. Seharusnya membaca diterapkan sebagai kebiasaan
sedari kecil, karena pemikiran untuk menyukai buku bisa dimulai sedari
anak-anak, seperti kata Joko Pinurbo,
“Jika
masa kecilmu kau habiskan dengan membaca niscaya kepalamu akan bermandikan
kata-kata”
Walaupun gerakan-gerakan yang sudah
ada belum terlalu mengubah, namun kita sebagai generasi muda harus terus
berupaya dengan inovasi terkini untuk menukar pemikiran masyarakat konsumtif
yang cenderung praktis dengan kepekaan cerdas, kritis, dan inspiratif. Hal yang
paling sederhana yang dapat kita lakukan yaitu berasal dari diri kita sendiri,
kemudian berlanjut memperkenalkan atau membiasakan anak-anak untuk membaca.
Sesuai dengan goals SDGs yang keempat
yaitu pasal "Pendidikan melalui pemerataan dan penyebarluasan Pendidikan
diimplementasikan dengan Gerakan mengajar di SD" kemudian
diinisialisasikan KMSI UNDIP dengan sasaran Sekolah Dasar (SD) Mlatiharjo 01.
Dengan cara kita mengenalkan literasi itu menyenangkan, seiring berjalannya
waktu akan membuat anak-anak terbiasa dalam literasi.
Gerakan yang dilakukan oleh KMSI
UNDIP bertujuan untuk membangun, mengembangkan, dan membuat literasi menjadi
suatu hal yang menyenangkan bukan membosankan. Hal itu dilakukan dengan
melakukan pengabdian dalam sektor Pendidikan, utamanya kepada para siswa di
Sekolah Dasar (SD) Mlatiharjo 01, kota Semarang. SD dengan ketimpangan jumlah
pengajar dengan kualifikasi 16 pengajar untuk 300 siswa ini memiliki media yang
cukup memadai seandainya saja komposisi dan kompetitif siswanya seimbang dengan
semangat berliterasi. Metode pengajaran dilakukan dengan cara yang telah
dirangkai semenarik mungkin dalam rentang waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
07.30 s.d 09.30 (kelas 1-2), 10.00 s.d 12.00 (kelas 3-4), dan 07.30 s.d 12.00
(kelas 5-6). SD Mlatiharjo 01 belum mengimplementasikan fullday school dengan 5 hari kerja dikarenakan bangunan yang belum
sesuai kriteria oleh karenanya digunakanlah sistem double
shift dengan 6 hari kerja. KMSI membidik agar para siswa nantinya dapat
melihat sisi positif dari literasi, misalnya menjadi lebih banyak pengetahuan,
wawasan yang luas, bahkan hal-hal yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya
di kepala.
Menggagas soal permasalahan diatas,
KMSI UNDIP membangkitkan kembali program kerja yang disebut KMSI Mengajar.
Setelah mengalami stagnasi karena pandemi menyelimuti bumi, KMSI Mengajar
kembali berjalan dalam kemasan pengabdian. SD Mlatiharjo 01 Semarang diharapkan
menjadi kontributor pertama dan utama dalam menyukseskan agenda ini. Departemen
Dimas (Pengabdian Masyarakat) dibawah naungan KMSI UNDIP berdikari dalam rangka
mewujudkan progres literasi secara aktif untuk mengenalkan literasi dan sastra
pada anak-anak dengan persepsi yang positif. Nantikan perjalanan kami
selengkapnya di lembar Juli.
“Literasi
tidak akan membuatmu bosan, jika dirimu tahu cara yang menyenangkan untuk
dirimu sendiri”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar