Setelah mengalami tidur panjang selama
kurang lebih dua tahun sejak 2020, Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia
Universitas Diponegoro (KMSI Undip) akhirnya dapat berupaya kembali
merealisasikan salah satu program kerja yang cukup krusial di bidang pengabdian
kepada masyarakat. Dahulu program kerja ini bernama Sasindo Mengajar, tetapi
akhirnya diubah menjadi KMSI Mengajar pada tahun 2022. Bukan tanpa alasan,
pengubahan nama tersebut memiliki filosofi tersendiri, yaitu sebagai simbol
bahwa para mahasiswa yang tergabung di dalamnya mencoba memulai dari awal dalam
merancang konsep-konsep di setiap sisi pada program kerja ini pasca pandemi.
Dengan diubahnya nama tersebut, diharapkan dapat menjadi semangat baru dalam
memberikan solusi kurang meratanya kualitas pendidikan Indonesia.
Lalu apa esensi dari KMSI Mengajar itu
sendiri? Sebagai kaum intelektual, mahasiswa harus mampu membagikan ilmu yang
dimilikinya kepada masyarakat luas. Salah satu caranya yaitu melalui pengabdian
dalam bentuk pengajaran kepada insan-insan akademik di sekitar sebagai usaha
memajukan pendidikan di Indonesia. Selain bermanfaat untuk masyarakat, upaya
pengajaran tersbeut juga dapat melatih potensi diri bagi mahasiswa Sastra Indonesia
yang mengikuti program kerja tersebut.
Sebagaimana KMSI Mengajar dilakukan oleh
mahasiswa-mahasiswi program studi Sastra Indonesia, maka hal yang diajarkan pun
juga tetap di ruang lingkup kesusastraan dan kebahasaan Indonesia yang
disasarkan kepada anak-anak sekolah dasar—dalam hal ini siswa-siswi SDN
Mlatiharjo 01 Semarang. Mengapa demikian? Hal tersebut dikarenakan pengenalan
literasi sastra sejak dini sangat penting karena dapat mengembangkan
kreatifitas anak, serta mengembangkan cara mereka berkomunikasi di lingkungan
sekitarnya. Selain itu, kehidupan manusia juga tidak terlepas dari
tulisan-tulisan. Maka dari itu sangat perlu melatih kemampuan baca-tulis anak
sejak dini.
Alasan lain di balik pengenalan literasi
sastra kepada anak-anak yaitu diharapkan dapat menarik minat mereka untuk
mempelajari lebih mendalam kesusastraan Indonesia seiring tumbuh kembang mereka
menuju dewasa. Misalnya seperti minat dalam mempelajari dan mengarang puisi,
novel, lagu, atau bahkan melestarikan kesenian-kesenian yang lain yang dimiliki
oleh bangsa kita sendiri. Sebab nasib keberlangsungan bangsa Indonesia di masa
depan ada di tangan pemuda-pemudinya di masa sekarang. Seperti yang dikatakan
Ki Hajar Dewantara,
"Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya
dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan
bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar